SOPPENG Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite kembali dikeluhkan oleh masyarakat di Kabupaten Soppeng. Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Desa Belo, di mana warga mulai merasa gerah dengan pelayanan pengisian bahan bakar yang dinilai tidak konsisten.
Kondisi ini sangat memukul sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama warga setempat. Banyak petani yang merasa produktivitas mereka terganggu karena harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari bensin.
Keluhan Warga: Pelayanan Mengecewakan
Hasan, salah seorang petani asal Desa Belo, mengungkapkan kekesalannya terhadap situasi ini. Menurutnya, pemandangan papan pengumuman bertuliskan Pertalite Habis sudah menjadi hal yang terlalu sering ditemui.
Kami ini petani, butuh bensin untuk kendaraan dan alat pertanian. Tapi setiap ke SPBU sering sekali habis. Sangat mengecewakan pelayanannya," ujar Hasan dengan nada kesal.
Ia menambahkan bahwa ketidakpastian stok ini sangat merugikan dari segi waktu dan tenaga.
Bolak-balik Warga harus menempuh jarak jauh berkali-kali hanya untuk mengecek ketersediaan stok.
Buang Waktu Waktu yang seharusnya digunakan untuk menggarap sawah justru habis untuk mengantre atau mencari bensin ke wilayah lain.
Biaya Tambahan Terpaksa membeli bensin eceran dengan harga yang jauh lebih mahal jika stok di SPBU kosong.
Harapan Masyaraka
Warga Desa Belo berharap ada perhatian serius dari pihak terkait, baik dari pengelola SPBU maupun pemerintah daerah, untuk memastikan distribusi Pertalite tetap lancar dan tepat sasaran.
Hingga berita ini diturunkan, antrean kendaraan di beberapa titik pengisian masih terlihat cukup panjang, sementara warga tetap dihantui rasa khawatir akan kehabisan stok saat mereka sangat membutuhkannya.